Rabu, 14 November 2018

Sudah Ada Cerita tentang Keangkuhan, Donat-donat, dan Ikan-ikan di Sepanjang Tanjakan Jembatan

24 jam itu akhirnya berlalu juga. Aku tidak perlu repot-repot menghindar meski masih ada-ada saja kail yang menyangkut di tumitkuㅡsehingga aku tidak bisa berlari dengan leluasa.

Lega rasanya ternyata semalam aku tidak jadi menabrak meski setelah menghadap kanan aku kehilangan beberapa detik yang luput dari hitungan, yang iya, sebenarnya selalu kulakukan dan terjadi. Adalah hari kedua aku mencari-cari biasa yang kutinggalkan di Surabaya 4 hari lamanya, lalu begitu di sini kukira ia tertinggal di Kediri.

Ingin rasanya aku mengobok-obok bak mandi, lalu bertanya pada kedua ikan pak Jali, kepada yang lebih gendut sedikit, aku akan tanya apakah banyak orang menyangka ia lebih tua dari temannya, atau apakah orang-orang menyangka ia kakaknya? Siapa yang tahu mereka saudara atau bukan kalau bukan keduanya? Kepada yang lebih kecil dan sering menjauhiku, aku akan tanya apakah ia malu denganku? Atau bagaimana rasanya berhari-hari menatapku, kamiㅡNanta, Dj, Jak, Lon, Arㅡjuga keluarga pak Jali, mandi telanjang di hadapannya? Aku sungguh penasaran, apakah telanjang juga tabu bagi ikan-ikan yang berenang tanpa pakaian?

Lucu sekali bahwa akhir-akhir ini aku merasa jahat-jahat sekali. Sialnya, aku suka, dan aku tidak suka karena aku menyukainya, tidak suka pula untuk mengakuinya bahwa aku sedikit suka aku suka. Suka-suka Shizuka, dia banyak yang suka. Toh kalaupun Dekisugi pintar, tampan, dan kaya, pemeran utamanya tetap Nobita.

Sepanjang aku diam dan rumah-rumah serta kendaraan berlalu mengantarku pergi dari Surabaya, aku ingin menepuk satu demi satu dengan teramat cepat, dengan berlari dari ujung gerbong ke ujung lainnya, rasa memiliki yang terlalu menyesakkan ruang-ruang di gerbong lima, biar hening ganti menampar kesadaran bahwa di tempat ini kita tidak sendirian. Tampar saja aku, tampar saja! Aku memang sedang ingin sok jadi pahlawan.

Padahal, di hari-hari yang panjang itu aku terus merasa terhimpit oleh pertanyaan-pertanyaan seputar vaksinasi, ketepatan bahasa jawaku yang kacau sekali, cara-cara yang tepat untuk pergi ke kamar mandi di malam hari, juga rasa penasaran mengenai air bak mandi yang kuusir dengan lamunan tentang...bagaimana bertanya kepada responden nanti, misalnya.

Ketika akhirnya kami telah selesai, aku menyadari betapa ternyata yang kubutuhkan bukan sarapan cornflake dengan susu greenfields, atau lele goreng dengan pecel, atau roti tawar ovomaltine, atau choco chip cookies starbucks. Aku tidak menikmati mandi bersama ikan, tidak pula menikmati sandal yang lembab dan menguap di setiap siangnya, banyak yang kubenci tapi ternyata aku suka untuk menjadi tidak sendirian. Ternyata meski takut aku selalu ingin didengarkan, seperti nyamuk-nyamuk yang kecil dan berbisik-bisik nyaring tentang harinya di telingamuㅡjangan tepuk aku :(

Sewaktu kami pulang, bu Jali menitipkan syukur-syukur lewat mangga yang kami bagi di kereta, lalu perpisahan di Sepanjang dan berakhir di Gubeng Surabaya. Aku menunggu ayah, tetapi tidak marah-marah. Kepada mas-mas Dunkin Donuts yang ramah, aku sungguh ingin bertanya, tapi aku memilih berdoa saja kemudian. Semoga masnya selalu mendapati hari yang genap dan penuh, seperti ketika masnya mengisi kembali rak-rak donat yang kosong dengan dua-dua-dua yang ditata rapi, cepat, dan cekatan. Semoga juga cahaya selalu ada, meski tidak selalu hangat. 

Di jalanan Surabaya, aku membayangkan kembali jembatan di dekat rumah pak Basori, yang airnya selalu mengalir, saling berkejar dan bertumbukan di batu-batu kali. Kemudian aku berdoa lagi, Semoga juga, nampan-nampan yang kosong segera disambut pintu kontainer yang terbuka, melahapnya dengan b-a-h-a-g-i-a.

Selasa, 30 Oktober 2018

Bukan Forrest Gump

Aku mau push up yang banyak, lari yang jauh. Aku mau berhenti setelah capek sudah selesai.

Aku sudah lari-lari. Beberapa butuh berhari-hari. Dulu sekali, aku pernah tujuh tahun berlari-lari, sendiri.

Aku akan membunuhmu, suatu hari. Akan kuajak lari-lari. Lari-lari, sampai salah satu dari kita, mati.

Minggu, 16 September 2018

Mantra Mantra,

Di tepat sebelum tempat putar balik, aku ingin sekali tertawa. Keras-keras.

Aku cuma bertemu beberapa jam, yang jika dihitung lebih spesifik lagi, ia hanya jadi beberapa menit. Lalu belum apa-apa sudah berprasangka, buru-buru mengamini waktu mendengar cerita yang tidak lebih dari potongan kuku satu hari.

Kamu memilih jadi jahat. Dan aku pura-pura baik, atau hanya ingin terlihat baik, barangkali. Tidak ada yang dapat kamu cegah dari sesuatu yang kamu sendiri tidak pernah tahu pertandanya. Kamu sendiri toh tidak ingin dinilai sama. Lalu, darimana kita harus berkaca?

Kamu pun tidak suka memikirkan betapa mengerikannya manusia dapat berpikir tentang setiap gerik yang kamu gerak. Karenanya, kamu urung meminta ditemani. Karenanya, aku urung berbaik hati. Karenanya, kita bisa-saja-m-a-t-i.



now playing: Rehat - Kunto Aji
on queue: Jakarta Jakarta - Kunto Aji

Selasa, 11 September 2018

Surat Tanpa Alamat

Jakarta, Jakarta
dan kenangannya

Jakarta, Jakarta
dan kenangannya

Aku membayangkan kita bersepeda, malam-malam, dan Surabaya sepi-sepi sekali pada pukul dua lewat lima. Aku ingin menatap Monumen Kapal Selam lebih lama lagi, aku akan berhenti hingga lampu merah keenam telah berganti hijau yang ketujuh. Aku akan menunggu.

Hanamasa dan obor-obor yang menyala, bolehkah aku menghangatkan telapak tangan di sana? Bolehkah aku mengatakan Surabaya adalah rumah, sehingga dimana pun aku berada, di pusat kota, di pesisir Kenjeran, di balkon Tanjung Perak, di bawah Suramadu, di kursi tunggu Juanda, aku akan tetap merasa telah pulang?

Adakah tempat bagi kita untuk mencinta lebih dari di Surabaya? Di jembatan Tunjungan, di parkiran mobil Pakuwon Mall, di penyeberangan Gubeng Airlangga. Di jalan menuju Kebun Binatang Surabaya, di Darmo, di Stasiun Pasar Turi. Di Kampung Ilmu, dimana-mana, dimana-mana. Adakah tempat yang lebih nyaman daripada menemukan banyak tangan yang siap untuk kita genggam?

Adakah tempat bagi kita untuk dicinta lebih dari di Surabaya? Di spion sepeda motor, di ruang kelas, di saat ia berlalu, bisa kita tatap matanya yang tegas, sayu, membara, hangat, lelah. Di bahunya, akan kita tepukkan satu-dua, dan senyum kita akan melekat di sana, menembus kemejanya, kaosnya, kemudian tali branya, kemudian meresap ke dalam pori-pori kulitnya, lalu menembus aliran venanya. Adakah tempat yang lebih nyaman daripada memiliki kedua lengan untuk menyambutnya setiap saat?

Di surat yang kutemukan di perempatan itu, kita menerawang. Tak adakah tempat kencan di Surabaya? Tanyanya. Katanya, tak ada tempat kencan di Surabaya. Tak ada tempat kencan di kota. Tak adakah tempat kencan di kota?

Kita bertatapan.

Jika ada seorang loper koran yang mengasihi pembelinya, atau seorang guru menyayang muridnya, atau aku yang mencinta kucing-kucing jalanan lebih dari diriku sendiri, salahkah ia?

Di Surabaya, dan kenangannya,
kita, cinta, dan definisi yang berkelindan,
Adakah ruang bagi cinta selain kepada anak dan orang tua?

Selasa, 04 September 2018

Dataran Rendah, Tempat Kita Mengucapkan Selamat Jalan

Terakhir kali, kami melakukan tos-selamat-jalan. Aku mengantarnya dengan hati-hati yang hanya sampai di kerongkongan. Rasanya aneh. Berhari-hari sebelumnya aku merasa kelelahan, kewalahan meladeni jadwal, ego, dan gengsi. Tapi harus kutekan dalam-dalam agar kejutan ini tetap mulus jalannya, meski pada akhirnya ia menciumnya juga.

"Kamu kenapa?"

Aku mencoba tertawa, tapi kemudian aku memang tertawa saja. Lucu sekali. Aku sedang melakukannya untuk diriku sendiri, ternyata. Maka kuputuskan untuk mengajaknya kembali ke kamar dan tidur saja sebelum besok akan menambah lelah dan kuharap juga senang. Kami berbicara soal sapi-sapi, perkawinan, lagu-lagu nostalgia, bintang-bintang, dan keserakahan.

Barang-barang di troli bandara menyibukkanku sehingga aku tidak perlu repot-repot mencari topik. Kemudian canggung tersenyum di dashboard mobil menemukan kekhawatiran yang tidak sengaja kutampakkan. Aku meliriknya tajam, ia tertawa puas. Sialan!

Saat itu, kami berkabar sekedarnya. Ada satu hari dimana kami memilih untuk jalan-jalan saja. Dua puluh sekian masih agak lama, kami harus bersabar. Sampai hari ini, kami membangun rencana-rencana dan membiarkannya digerus ombak pesisir, kami akan membangunnya lagi di siang hari, kemudian akan kami temukan mereka tercecer, hilang, dan terlupa keesokan paginya. Bulan dan pasang, kami menikmatinya dengan berbaring, menunggu laut naik ke atas tubuh kami dan menggelitik dengan jemarinya yang teramat luas. Kami bergandeng tangan sampai adzan subuh terdengar. Akan kami berlarian dengan kaos yang lekat dan terawang, dengan tawa-tawa kecil yang kami telan di antara senyum gigi-gigi gigis dan matanya yang melengkung seperti sabit yang baru kami pandang. Aku ingin berpelukan dengan jari-jari yang bersilangan. Nanti, kami akan terbangun di hari yang lain, berjalan sendirian, berpunggungan, lalu kami cari sisa-sisa rencana yang semalam kami biarkan diambil laut ketika kami keasyikan bertatap-tatapan.

Di stasiun baru, aku menyampirkan satu kantong plastik jajan. Kami merasa seperti akrab kembali setelah seribu enam ratus dua puluh tujuh hari menjalani hubungan berjarak. Aku ingin kami berjumpa lagi kapan-kapan, aku ingin kami tetap menjadi teman baik meski banyak hal yang berubah.

Sama, aku juga ingin kami tetap baik meski terus berubah, meski laut akan selalu menelan rencana-rencana kami, aku ingin tetap dapat berbaring bersama dan tergelitik bersama saat ombak menghantam dan memijit tubuh kami.

Hingga nanti, jika ternyata kami terluka karena landak laut, aku ingin mengobatinya tanpa penyesalan, agar tidak ada tujuh tahun lainnya yang menyeretku ke segitiga bermuda.

Senin, 04 Juni 2018

Kita Semua dan Kesombongan yang Gagal

Kadang saya ingin sekali bertanya, "Apa kabar?"
Atau bercanda dan bilang, "HAHA. Iyalah, kamu kan (isi sendiri)"
Kadang saya juga ingin bilang, "Aku capek,"
Kadang lainnya saya ingin marah lalu mengatakan dengan ketus, "Ya sudah!"

Atau tidak usah bilang apa-apa
Kadang saya ingin berlari lalu tiba-tiba memeluk
Di saat yang lain saya ingin datang tanpa bilang apa-apa dan numpang menangis
Kadang lainnya saya ingin melempar kursi pada siapa saja
Kadang-kadang ingin rasanya ditelan kasur atau masuk ke dalam gelas

Tapi kadang lebih baik diam saja
Diam saja
Diam saja

Karena dan agar
saya tidak tahu apa-apa

Minggu, 03 Juni 2018

Kelali

Rasanya tidak ada orang yang suka dibentak-bentak lalu dituding, "Kamu berubah!" *zoom in* *zoom out* *zoom in* *zoom out* *efek layar pecah*

Heran juga. Iya, dong, pasti saya berubah setelah hidup hampir dua puluh tahun ini. Dari yang dulu ginuk-ginuk lucu, sampe sekarang udah nggak lucu sama sekali, soalnya receh :( tapi receh lagi jadi selera masyarakat, sih. HAha.

Barangkali kita memang sulit legowo kalau dihadapkan dengan hal-hal yang nggak sejalan dengan maunya kita. Juga sulit nrimo hal-hal yang nggak sinkron sama rencana. Barangkali kita memang sejak dulu selalu gagal melihat segala sesuatunya sebagai suatu keutuhan. Sehingga kita selalu merasa tahu, padahal tidak sama sekali. Kita cuma mengisi kekosongan dari titik-titik yang kita lihat, lalu membentuknya menyerupai pola-pola yang pernah kita jumpai sebelumnya. Begitu kekosongan yang kita paksa penuhi dengan informasi seadanya itu didesak oleh informasi baru yang ternyata nggak klik, kita mencak-mencak, maido marang Gusti Allah.

Congkak sekali saya sebagai manusia. Lha sing ngewenehi kowe urip iki sopo?

Kamis, 17 Mei 2018

Abyaksa


Aku menyuapinya dengan kunang-kunang yang menyala, sehingga kemudian dapat kulihat bibirnya yang putih kembali merona, pula kuku-kuku ungunya memerah muda. Kurang dari empat puluh tujuh sekon yang lalu kami masih berlarian menghindari hujan anak panah. Sebelum tiba-tiba, hutan menelan kami lebih dalam ke perutnya.

Kukira kami akan mati karena masuk lebih dalam mungkin berarti kami akan tinggal di sini lebih lama. Tapi dua puluh delapan sekon lalu, kami mendengar daun-daun bergemeretak. Mulanya jauh, kemudian kian dekat, lalu salah satu sulurnya mencubit tumitku.

“Auuuuu!” Bebatangan pohon melolong, beriringan, bersahutan, menggema, menenggelamkan aduhanku, pun sisa-sisa keberanianku. Aku terduduk, menyusul gadis bermanik cokelat muda yang tak berkutik sejak terjerembab di bawah sini.

“Aku takut,” Aku mendengar bisik sepatunya yang bergesekan dengan daun ketika ditarik mundur kemudian dipeluknya erat-erat. Aku menghela napas sesaat, sebelum kemudian berniat mengusap surainya yang berantakan pasca adegan berkejaran dengan tidak-tahu-siapa, atau barangkali memberikan pelukan dan puk-puk di punggung untuk menenangkan.

Aku baru saja mengangkat tanganku, bergeser sedikit, “Aku juga takut,” Jemariku menciut mendengar anak rambutnya yang menjuntai mendadak mendesis bersama hawa dingin yang menggigit saraf-saraf krause ujung-ujung jemariku, aku urung.

Hutan yang semula gelap, dingin, dan lembab, perlahan-lahan mendapatkan sumber pencahayaan. Kukira hari telah pagi, barangkali malam terasa lebih cepat lalu karena kami menghabiskannya dengan napas yang menderu dan rasa takut yang menalu-nalu. Kunang-kunang beterbangan membawakan kami air yang cukup untuk diminum berdua. Aku menjepit salah satu yang terbang di dekat ekor mataku. Hangatnya menjalar dari jari-jari ke lengan, lalu tubuh. Aku menangkup tanganku, meraup lebih banyak lagi, lalu mendekapnya, dan mencoba memasukannya seekor ke dalam mulutku. Ia beterbangan, lalu meleleh melewati kerongkonganku, mengalir seperti madu cair ke dalam lambungku dan menggenang di sana.

Akan kusuapkan beberapa kepada Andara, sehingga ketakutan yang melilit tubuhnya dapat menjelma jadi kekuatan untuk pulang dari ketersesatan ini.