Sabtu, 05 Agustus 2017

Ingin Berhenti di Dilarang Berhenti

Dia mati. Lalu pagi ini tiba-tiba sepi. Padahal sekarang sudah malam. Harusnya ini diposting tadi pagi.

Ibu minta dibuatkan surat arisan. Tapi Chikem bandel seperti noda yang baru hilang kalau dibasmi rinso setelah 33x kucek diiringi istighfar jangan diselingi umpatan.

Buka laptop, malah buka browser. Lalu tersasar di laman biasanya. Dia lagi, dia lagi. Tapi tetep dibaleni lain hari. Scroll scroll. Ada tautan. Klik. Menyasarkan diri ke tempat yang sudah lama tidak dihampiri.

Tiba-tiba pagi ini nggak jadi sepi. Jadi sedih.

Dasar Chikem. Kalo nggak "lucu" "sedih" ya "gapapa". Sempit sekali kayak rok span paduan suara.

Lucu ya. (Tuhkan.) Mungkin aku terlalu tidak peduli dengan sekitar, ya? Atau aku memang sibuk memedulikan diriku sendiri? Apa bedanya? Beda, sih. Tapi malas menjelaskan. Terserah kamu memaknainya seperti apa.

Kadang hal-hal tidak sesuai seperti yang kuduga karena memang aku bukan cenayang (oh, tentu saja). Dan...kok aku kecewa? Padahal harusnya biasa saja. Toh itu tidak mengejutkan amat.

Harusnya aku lebih bisa biasa saja seperti saat tahu ternyata dia seperti konyaku. Terduga tapi tidak juga. Masih punya efek kejut meskipun ya...tidak juga.

Aku merasa seperti baru saja kehilangan jejak, lalu menemukannya saat aku belum siap. Padahal sudah disiapkan.

Tiba-tiba saja aku merasa insecure. Lagi. Dan aku ingin lari-lari keliling kompleks tanpa perlu ketatap tiang tanda dilarang berhenti.

Rabu, 12 Juli 2017

Jana, Pani, Yaudahlah

Jana sudah. Aku menyuapinya serampangan, setengah sadar, semalaman. Pokoknya kamu kenyang. Dan bersih. Dan rapi. Nggak belepotan. Pokoknya kamu kenyang, tenang, aku senang, meskipun nggak terlalu tenang. Gimana kalo nanti kamu sakit? Batuk-batuk, misalnya. Atau meler. Tapi masih bagus. Gimana kalo nanti kamu kenapa-napa? Ya, salahku, sih, sebenarnya. Maumu apa coba. Kalimat terakhir tadi teguran untuk diri sendiri.

Pani tumben-tumbennya manja. Ia menarik-narik ujung cardiganku dan aku bingung harus bagaimana. Bentar, dong, sayang. Ada yang harus aku jenguk dulu.

Aku menjenguknya. Tapi dia sedang ngambek, sepertinya. Kami kayak orang musuhan, padahal aku merayunya mati-matian. Ingin kunyanyiin Rayuan Pulau Kelapa jadinya, tapi dia nggak suka lagu mendayu-dayu. Dia ingin lekas sembuh. Aku juga! Enak saja. Bukan aku tidak sayang, cuma kami tidak akur. Pinginnya bareng, tapi nggak juga.

Yaudalah ya. Terserah. Semoga Jana senang, juga sehat. Pani, sabar dulu, ya. Aku nggak menomorduakan kamu, cuma memang harusnya seperti itu. Dan kamu, yang aku bahkan tidak tahu panggilanmu, tolonglah berkompromi sekali saja. Aku juga tidak mau marahan terus denganmu.

Selasa, 11 Juli 2017

Lekas

Kali ini, lima hari rasanya seperti... duh, kapan berakhir ya?

Senin, 10 Juli 2017

Tentang Kamu dan Ketidakpahamanku

Anehnya, kamu seperti novel favorit semua umat. Dan aku, yang tak gemar-gemar amat membaca, tak bosan-bosannya mengulang; kata demi kata; frasa demi frasa. Selagi orang-orang beranjak, sibuk mencari kamu yang baru, aku masih di sini; membacamu sekali lagi dan sekali lagi; aku selalu mendefinisikanmu baru; dan aku akan mundur, kembali sekali lagi.

Jumat, 07 Juli 2017

Tentang Menyelamatimu

Tadi aku sudah cerita panjang lebar, tapi urung. Tentang kamu, Chandra, dan kekasih barumu. Hehehe, aku tidak patah hati, kok. Sungguh.

Akhirnya, ya, Ndra. Setelah tiga tahun.... Gila kamu. Lain kali cerita, dong, kalau kamu sedang naksir orang. Barangkali aku bisa membantumu tipis-tipis, kan? Aku turut senang, kok.

Akhirnya, ya, Ndra. Setelah direspon dua hari, diabaikan lima bulan, ditinggal dengan laki-laki lain setengah tahun, dijadikan tempat curhat dua minggu (sebuah progress, sih, daripada dua hari), ditinggal dengan laki-laki lain (lagi) satu tahun tujuh bulan.... Akhirnya, ya, Ndra. Akhirnya.... Gila kamu. Kenapa kamu nggak pernah cerita, sih, tentang dia? Kan, aku bisa membantumu berdoa. Aku turut senang, kok, sepertinya.

Akhirnya, ya, Ndra. Kamu sungguh harus berterima kasih pada UKM-mu. Kalau bukan berkat dia, mungkin saat ini kamu sedang frustasi mencari modus mampir ke fakultasnya yang terlalu jauh kalau berdalih 'pingin jalan-jalan aja'. Akhirnya, ya, Ndra. Akhirnya.... Gila kamu. Gila aku. Aku turut senang, seharusnya. Tapi, ternyata aku patah juga hehehe.  

Selamat, ya, Ndra. Semoga kita semua bahagia.

Minggu, 25 Juni 2017

Pengantar 'Tentang Mas Itu'

Iya. Sebelumnya aku mau mengucapkan taqobalallahu minna wa minkum. Semoga Chikma bisa memaafkan Chikma yang ini dan selama ini.

Ada yang belum Chikma kemarin penuhi selama Ramadan. Dan Chikma yang hari ini ingin meminta maaf kepada Chikma nanti (dan mungkin besok) atas bertambahnya hutang yang harus dibayar dan diselesaikan. Chikma yang kemarin berdalih sibuk.

"Halah, sibuk apa tidak menyempatkan?" Chikma hari ini mencibir kesal, e tapi ya agak menyesal.

Agak terpelatuq waktu Faiz bilang, "the long awaited kisah mas *sensorduluagartidakspoiler* akhirnya belum selesai sampai lebaran, ya? hahaha"

Duh, padahal banyak sekali yang mau kuceritakan tentang doi. Sebenernya saking banyaknya itu, sih, jadi nggak selesai-selesai. Alibi, sikat.

Chikma yang hari ini tidak bisa janji menyelesaikan 'Tentang Mas Itu' karena Chikma nanti dan Chikma besok yang harus bertanggung jawab. Maafkan Chikma hari ini juga kalau gitu. Ternyata Chikma yang hari ini belum bisa memanajemen waktu dengan baik. Semoga di hari kemenangan ini, Chikma nanti dan Chikma besok bisa semakin hebat meski bahu rasanya makin berat. Semoga kamu nanti dan kamu besok juga gitu. Hehe.

Kamis, 22 Juni 2017

Tanaman yang Tumbuh di Dekat Selokan Itu Kini Sudah Mati

Kadang aku menampik kenyataan bahwa yang berlalu bisa berubah sewaktu-waktu. Bahkan jarum jam tanganku yang baterainya habis saja bisa berpindah tau-tau. Aku juga nggak ngeh gimana, mungkin masih ada energi yang tersisa. Mungkin juga cangkir yang dulu penuh setengah itu sekarang sudah kosong separuh.
 
Sama, tapi beda.
 
Halah, makna kan terletak pada komunikan. Lah, kemudian, pertanyaannya berubah jadi, "Memangnya kamu apa? Bukannya partisipan?" Iya, aku sendiri bingung, nulis sambil mbaca, enkoding sambil dekoding. Komunikasi intrapersonal gitu ceritanya?
 
Materi bu Moer stuck banget di kepala. Mungkin karena teorinya terjadi berkali-kali-kali-kali dalam sehari. Rasanya kayak praktikum sampai tuwuk gitu barangkali.

Tugas kuliah selalu jadi korban tiap mampir kemari. Gimana, ya. Kangen. Kapan lagi, kan, ngobrol kayak gini?

Alibi aja. Padahal kapan-kapan juga bisa.

Sulit Rasanya Bicara Ketika Kamu Sedang Terjungkal dan Tidak Ada yang Menolong Meski Orang-orang Melihat

Aku benci Chandra (bohong)
Ternyata aku lebih benci kamu (jujur)
Ternyata aku masih benci diriku sendiri.