Senin, 04 Desember 2017

Tukar Bangku

Aku ngambek, dan masih merengut setelah tiket masuk teater dua sudah berpindah dari tangan mbak-mbak berseragam di balik meja marmer ke tanganku, padahal bukan aku yang bayar.

"Sudah, mau kemana?"

Kalau di film, intonasinya pasti manis sekali, dengan bumbu-bumbu sabar dan senyum tipis ditebar. Tapi aku makin kesal, memilih menengok kanan-kiri, pura-pura tidak dengar, lalu seenak jidat melenggang menuju sofa kosong di ruangan. Kami tahu tidak mungkin duduk di sini sampai pintu teater dibuka dan penonton yang telah memiliki karcis dipersilakan memasuki teater. Jadi pertanyaan itu terlontar lagi,

"Mau kemana?"

Rasanya aku ingin menenggelamkan kepala orang di sofa bioskop yang tidak lebih empuk daripada sofa butut villa 1.3 juta di Trawas, lalu gulung-gulung di karpet hijau yang sampai sekarang aku masih wondering, itu pernah di-laundry nggak ya? Jangan triggered ya yang kerja di sana, aku beneran kepo.

Kami masih harus menunaikan 4-3 petang dan menyambut malam, lalu masih harus menunggu lagi sembilan puluh menit. Prioritas doi pulang cepat dan kami saling melempar terserah karena sama-sama malas berdebat. Tapi aku pasang wajah bete kalau ditawari tiket 16.45.

Aku memandangi tiket teater dua, menarik napas panjang, lalu memilih memejamkan mataㅡmerasa bersalah, bukannya terima kasih malah ngambek, lama lagi ngambeknya. Tiba-tiba angka dua yang cetakannya pudar itu tampak bergoyang-goyang, aku menyipitkan mata, kukira salah mataku, ternyata tidak. Angka dua itu mencuat, lalu terbang. Saat aku mendongak, aku masuk pada jendela obrolan di laptop Acer tua yang tebalnya hampir tiga centi, yang untuk tekan enter saja harus menunggu setengah menit.

Ada bola biru garis-garis di ruangan yang tidak ada ujungnya ini selain pesan terakhir dan angka penunjuk waktu tanpa topi telah dibaca. Aku ada di ujung yang lain, meski tidak ada ujung selain kotak layar yang membatasimu untuk melihat secara utuh paduan daftar obrolan. Aku adalah bola hijau jealous seperti warna sebuah festival-film-yang-aku-pernah-tahu. Dia menggelinding pelan, dan aku balas menggelinding, kaki kami saling bersentuhan, lalu seperti tersetrum, kami jadi pasangan yang sempurna untuk teman ngopi pahit di hujan rintik-rintik yang terlalu reda untuk hujan-hujanan tapi terlalu deras untuk diterabas, jealous ft. kesedihan.

"Aku ingin liburan keluarga!" Seperti sebuah judul-film-pendek-yang-pernah-kita-tahu.

Aku tersenyum tipis, sibuk membolak-balik katalog. Tapi mungkin aku buruk dalam menyortir, juga dalam membuat kategori-kategori yang cukup spesifik. Aku tidak bisa menemukannya dalam folder Baru, Belajar, Menghibur, juga Unknown. Kamu menunggu jawaban, aku masih memilah. Tunggu dulu! Tunggu sebentar! Aku akan mencarinya di My Computer karena aku lupa dimana menaruhnya. Duh, maaf aku gletak-gletek. Pencariannya akan sedikit lama.

Sambil menunggu, aku mengajakmu ke parkiran. Kita ngobrol dulu, dan aku akan buat pengakuan. Aku ingin bilang pada ibu dan ayah, "Ayo liburan bareng." Tapi itu ide buruk. Karena yang baik cuma angan-angan aku, kamu, dia, dan mereka. 

File yang kucari sudah ketemu. Isinya tidak memuaskan, aku urung memberikannya kepadamu. Aku tersenyum kecut sambil menarik pelan kotak di tanganku. Air mukamu berubah kecewa. Angka dua terbang kembali ke tiket teater duaku. Adzan berkumandang di luar gedung bioskopㅡyang tentu kami tidak dengar. Aku mengajaknya pergi ke musala. Tidak ada yang enak di dunia ini, selain kita tahu cara menikmatinya.

Sabtu, 18 November 2017

Rabu, 15 November 2017

Pendatang

Kita kebingungan dan bertanya-tanya.

"Aku baik-baik saja," katamu. Lalu tiba-tiba kamu marahㅡmembanting pintu, melempar barang, menendang kursi, menggebrak meja.

"Ada apa?" Aku bertanya, menarik napas, menghembuskannya, menarik napas lagi, kemudian menghembuskannya, dan mengulangi dengan tempo teratur.

Kamu selalu grusa-grusu dalam mengambil keputusan. Kamu bisa senang, puas, marah-marah, menghambur, lalu menangis. Dan aku akan selalu jadi bahu yang tidak dapat kamu raih, tapi selalu kamu singgahi kapan saja kamu butuh, atau mau. Kita bisa menghabiskan hari hanya dengan berbagi diam, saling bersandar tanpa bahu, berpeluk tanpa lengan, dan menggenggam lewat tatapan.

"Ada apa?" Aku bertanya sekali lagi, menarik napas sekali lagi, menghembuskannya sekali lagi, menarik napas lagi sekali lagi, kemudian menghembuskannya sekali lagi, dan mengulangi lagi sekali lagi, dan sekali lagi, mengulangi.

"Ada apa?" Kali ini, bukan kita yang berbicara. Kemudian kita kebingungan, dan bertanya-tanya.

Kita saling tatap, dan terngiang suara kita, siapa lagi kali ini?

Di pintu kamar yang terbuka setengah, kita melihat seorang dengan rambut cokelat setengah pirang yang dikepang, dengan tas punggung kuning berukuran sedang, dan sekotak bekal roti panggang.

Kita saling tatap, kali ini bertiga, kenapa kita mirip sekali, ya? Aku mendengar tiga suara berbeda yang sama.

Selasa, 31 Oktober 2017

Macet 3 Jam Kampus-Lenmarc

Maaf, ya, aku cuma bisa metik bintang, belum bisa ambilkan bulan. Meski tidak terang, tapi cahayanya tenang, semoga membantumu tidur lelap malam ini, juga malam-malam yang akan datang. Semoga juga bisa memberikanmu perlindungan dan menjawab semua tantangan.

Terima kasih untuk mas-mas baik hati yang membantu membukakan tangki bensin setahun yang lalu. Terima kasih juga untuk mas-mas baik hati dengan motor bernopol L 5**4 CT yang membantu mengeluarkan motor kemarin sore. Terima kasih juga untuk mas-mas penjual terang bulan malam ini yang menyelamatkanku dari kelaparan dan pulang kemalaman karena motor udah rewel minta diservis.

Terima kasih untuk Dj., Marie, dan Nanta yang dengan baik hatinya selalu mem-bully dengan sayang. Kalian masuk list teman paling ridiculous-ku. Terima kasih, ya Allah. Semoga kita semua dimudahkan oleh-Nya.

Senin, 30 Oktober 2017

Menyambut Musim Hujan yang Penuh dengan Bunga

Mendengarkan Pelangiku-nya Sherina sampai sukses.

Maafkan Chikma, sungguh. Chikma tidak berbohong. Chikma juga tidak marah. Chikma hanya sedang diam saja. Chikma malas uring-uringan. Chikma cuma ingin ini itu banyak sekali, tapi Chikma bukan Nobita yang punya Doraemon.

Chikma ingin baling-baling bambu, bagaimana kalau baling-baling jati? Banyak orang Indonesia yang suka perabot berbahan jati. Chikma ingin terbang bebas di angkasa, tapi takut merasa besar. Nanti lupa siapa Chikma.

Chikma ingin kita baik-baik saja meski titik-titik hujan masih membasahi kala kau menyapa. Chikma ingin dibisiki kisah yang lucu, dinyanyikan lagu merdumu, merah kuning jingga dan ungu.

Chikma rindu pelangi yang datang lagi dan dibawa pergi. Chikma selalu suka musim hujan yang berbunyi tik-tik-tik di atas genting. Chikma juga suka menengok keluar jendela, melihat pohon dan kebun basah semua.

Chikma rindu sekali pada musim-musim yang lalu, tapi Chikma mudah lupa. Kabar baik untuk cerita-cerita seram dan tidak menyenangkan, kabar buruk untuk ingatan-ingatan yang susah payah kusimpan dan kurapikan. Apakah joy, sadness, anger, disgust, dan fear Chikma pernah bertengkar? Apakah terlalu banyak long term memory yang dibuang oleh petugas-petugas kecil? Apakah island of personality Chikma pernah runtuh? Chikma bertanya-tanya.

Rabu, 18 Oktober 2017

Selamat Bertambah Tua, Rumah Lama

Terima kasih. Meskipun saya benci mengakui kenyataan bahwa saya pernah dirawat dan dibesarkan. Bahwa saya harus legowo dan nrimo, tapi tidak putus asa.

Saya sungguh berterima kasih. Atas hari-hari yang mencekik sehingga saya merasa benci pada sekolah, kelas, mata pelajaran, teater, dan semua hal yang menurut saya harusnya menjadi masa-masa paling berkesan.

Rumah tidak salah. Ia memang tempat kembali meski rumah bukanlah ruang dimana kepala selalu menemukan sandarannya, atau kotak tempat menaruh segala resahㅡsebab boleh jadi rumah adalah salah satu sebab resah paling berkepanjangan. 

Kemudian saya menyadari bahwa ternyata di rumahlah resah bisa tumpah, tangis dapat pecah, marah menjadi sah, dan rindu selalu berbalas. Bahwa pelukan paling hangat memang hadir dari orang yang seringkali sulit untuk diucapkan maaf, terima kasih, dan sayang. Bahwa realita yang sulit saya terima adalah seluruh waktu, tenaga, materi, dan mental yang dibaja-bajakan ini telah melalui serangkaian tempaan yang menjadikan saya sebagai saya yang seperti ini, yang seperti sekarang ini. Bahwa definisi rumah buat saya seringkali meleset dari apa yang dikonstruksikan media dan masyarakat. Bahwa bagi saya, rumah adalah tempat yang sering ingin saya tinggalkan dengan berbagai alasan. Bahwa rumah adalah institusi paling kejam, lebih-lebih saat saya diseret secara paksa keluar dari zona nyaman, padahal katanya rumah adalah tempat paling nyaman.

Tapi rumah tetap tempat berpulang. Atau setidak-tidaknya, ia pantas mendapat penghormatan. Terlebih ketika saya mulai paham bahwa rumah saya bukannya tidak normal jika dijajarkan dengan rumah-rumah tetangga yang rumputnya selalu lebih hijau menurut peribahasa. Rumah saya hanya memiliki caranya sendiri untuk membesarkan saya. Bahwa mungkin caranya bukanlah yang terbaik menurut saya, tapi paling efektif untuk membangun saya. Bahwa untuk capaian yang besar, saya memang harus siap dihantam proses yang besar pula.

Saya masih saya yang pendiam. Saya masihlah saya yang sulit beradaptasi dengan hal-hal baru. Saya masihlah saya yang sulit menerima perubahan. Saya masihlah saya yang temperamen, pendendam, penuh ketidakpercayaan, dan ceroboh dalam mengambil keputusan. Saya masih benci berbicara di depan banyak orang, masih benci pada kerumunan, masih benci ketika harus memimpin karena ketidakmampuan saya. Tapi setidak-tidaknya saya telah menjadi saya yang masih dari saya yang sangat. Dan saya masih harus siap ditempa di rumah lainnya jika saya masih berkeinginan untuk menjadi saya yang tidak dari saya yang masih.

Suatu ketika, saya dihadapkan pada keadaan yang di luar perkiraan saya, saat saya rasa semuanya sudah cukup di luar apa yang saya perkirakan. Saya panik. Dan itu adalah serangan paling mendadak nomor dua setelah yang pertama ketika menjadi moderator pengganti saat pemutaran reguler. Terima kasih untuk Marie yang menenangkan saya, juga Izal yang merelakan lengannya jadi tempat pereda seluruh kekhawatiran saya, meyakinkan bahwa saya tidak apa-apa. Meski beberapa saat setelahnya saya sesenggukan di paha Dj.. Siang itu Dj. marah dan saya paham ia marah sungguhan dan tidak. Kami tertawa. Saya juga. Saya cuma bisa tertawa. Dj. kesal. Saya masih tertawa. Dj. ngedumel. Saya masih tertawa. Saya dan rasa insecurity yang siang itu menjelmakan diri sebagai kaca-kaca yang saya usap bersama tawa sedih campur malu campur keinginan saya untuk ditelan karpet ruang Rocs saat itu juga.

Saya masih harus banyak dipukul dan dihantam dan dibiarkan remuk, jatuh, patah, luka. Agar kemudian saya bisa merdeka dari diri saya sendiri.

Terima kasih. Semoga saya mampu menjadi yang suci dalam pikiran, benar jika berkata, tepat dalam tindakan, dan dapat dipercaya seperti bait-bait yang sama-sama kita hafal di luar kepala.




ps. terima kasih juga telah mengajarkan saya bahwa yang terbaik belum tentu yang terbaik :)

Minggu, 15 Oktober 2017

Terima kasih hari-hari yang membuat saya semakin destruktif.

Saya kembali mendengarkan lagu-lagu Korea hanya agar saya bisa misuh-misuh tanpa ditapuk. Karena misuh dalam bahasa Inggris tidak cukup aman. Gamsahamnida.

Saya makin merepresentasikan perempuan dalam lirik Kunto Aji yang "ingin sendiri tapi harus ditemani". Terima kasih Instagram, saya sedang ingin sendiri tapi masih kepo orang-orang sedang apa. Terima kasih Line, saya sedang ingin sendiri tapi masih mau koar-koar pada seisi dunia kalau saya ingin sendiri dan ingin ditemani sebatas ini sajaㅡjangan benar-benar datang.

Terima kasih lagu-lagu Korea yang masih setia saya jejalkan melalui headset dengan volume di atas wajar ini. Terima kasih headset Samsung, saya bisa tetap melampiaskan emosi tanpa membuat orang-orang makin berang dengan saya andai tidak ada teknologi canggih bin solutif bernama headset ini.

Terima kasih Blogger yang telah memberi saya laman untuk mengumpat dan bersyukur pada satu waktu.

Kamis, 28 September 2017

Kamu Tidak Boleh Jadi Pengrajin Boneka Kayu

Kali ini dongeng harus tetap digaungkan. Kamu tidak boleh diam saja, lalu marah-marah pada tetangga, lalu nggondok, dan cuma jadi pengrajin boneka kayu saja.

Tadi Keke menegurku. Gara-gara aku bisik-bisik, tapi enggan angkat tangan. Aku maunya angkat kaki, tapi butuh asupan ilmu dan memastikan jatah bolos aman untuk kegiatan mendesak pada minggu-minggu yang akan datang.

Untuk orang seperti Chikma yang bisa tidur di mana saja, setiap tempat adalah bahaya, bahkan kursi meja belajar di kamar. Chikma bisa tertidur sewaktu-waktu, kemudian lupa waktu. Tiba-tiba sudah masuk waktu ibadah pagi. Kursi adalah ancaman untuk tugas-tugas yang menarik-narik ujung selimutku, tapi aku bisa tidur tanpa selimut. Ternyata menjadi tidak takut lebih menakutkan daripada ketakutan. Kadang juga perasaan terancam bisa tiba-tiba muncul setelah perasaan akan ketiadaan ancaman menjadi suatu hal yang lumrah, tapi tidak baik dilumrahkan.

Kadang aku mencium aromamu di lorong kampus, di parkiran motor, di kamar, di tempat-tempat yang kamu tidak pernah singgah. Kadang juga aku menemukanmu di langit-langit kamar, di langit-langit mulut, di pangkal tenggorokan, di lambung, dan di atas nakas, kamu dapat kutemui dengan salam-salam menjuntai yang kurangkai di ujung pintu, agar aku merasa pulang setiap kali pulang.

Kamu tidak boleh jadi pengrajin boneka kayu. Kamu harus tetap mendongeng meski cerita telah habis dituangkan ke dalam cangkir yang menua di sela jemari kita.

Aku mengingau. Tapi tidak apa-apa. Kamu tidak bisa selamanya cuma merangkai salam-salam di ujung pintu, atau berbicara pada cangkir-cangkir teh yang telah kosong separuh, atau dua per tiga.

Kamu sungguh tidak boleh jadi pengrajin boneka kayu. Saja.



"Halo, selamat malam,"

"Siapa tadi namanya?"