Sabtu, 12 Februari 2022
Senin, 20 Desember 2021
Cha Cha Cha: Teh Bukan, Hometown Bukan
Kamis, 16 Desember 2021
Bahu Hangat Itu Kutinggal Pergi
Kamis, enam belas di bulan Desember. Hari yang kuawali dengan pulang, hampir menabrak bak sampah karena kacamataku pecah sebelah. Aku sulit mengingat, benarkah hari telah berkurang satu dari hitungan menuju tahun baru?
Mengurus urusan yang tak habis-habis namun aku tidak tahu, itu apa dan untuk apa? Pesan-pesan bertukar, masuk-keluar. Rindu dan ajak temu, salam dan perjumpaan, kosong dan penuh basa-basi, kunikmati, kucoba maknai, tapi seperti merebus air dan kutinggal mandi, aku kembali dan melongok bingung, kemana semua pergi?
Hitungan terasa lambat. Kadang aku merasa, bagaimana bisa seseorang betah duduk diam dan bilang kehampaan itu nikmat? Pernah kudengar seorang tabib menasihatiku untuk hanya menghirup dan menatap malam Surabaya lamat-lamat, tapi mana aku bisa? Caraku adalah berdansa! Seorang yang lain berkata, sulap keahliannya, dan kalau aku ingin tahu kehebatannya, aku harus mau diam dan membiarkan triknya melucuti akalku yang masih sehat bekerja. Kenikmatan yang kucari, apa bagian dari yang mengawang-awang di semesta, yang bukan bagian dari himpunan dan tak beririsan?
Kursi untuk bersandar. Pada siang yang mendung ini aku mondar-mandir mengurus berkas kelulusan dan penghargaan. Usai dengan tanda tangan dan angka-angka yang kuisi tapi tak kukenali, aku bersandar di dinding kamar mandi. Hampir empat belas bulan ruang menariku hanya sepanjang 4 bilik dan dua wastafel yang mengakhiri koridor kecil ini, sementara di gedung yang gagah bermegah-megah ini aku sering kesulitan untuk bernapas, seperti udara dan manusia berebut menghimpit-pipihkan tubuhku dan ingin membuatnya tiada.
Aku bertanya lagi, ini hari apa? Kamis, katanya. Dinding kamar mandi dingin dan ruang ini tak seterang biasanya. Aku menghela napas, namun dada yang sesak tak lantas lega meski sudah kucoba untuk melonggarkan tali beha. Udara mungkin memadat di hari penghujan karena kudengar peluit kereta dan desing lajunya dari barat penjara.
Menu makan siang hari ini adalah sepi yang menanak beras menjadi nasi. Denting sendok beradu piring dan seruput kuah sayur saling sahut. Kudengar samar-samar tawa merambat dari tiang-tiang yang menyangga lantai satu. Di atas sini, hangatku cuma bisa kutitipkan pada dua bahu, selebihnya menurunkan suhu dan aku lelah pura-pura tidak kedinginan.
Nanti, bila pukul empat kurang lima tiba, aku mau lari dan bergegas menjejalkan seluruh basa-basi ke bagasi. Aku pergi.
Besok, kembali.
Kamis, 26 Agustus 2021
Matahari Itu Cukup Satu, Tapi Tidak Selamanya
Sabtu, 24 Juli 2021
cermin retak itu kamu, aku yang memecahkannya
Jumat, 04 Juni 2021
Menghitung Tabungan dan Hutang-Hutang di Kilometer Dela-pan
Selasa, 03 September 2019
Terpelintir di Orbit Galaksi
Duduk di tempat.
Jalanan padat.
Matahari menyengat.
Kamu melihat: pria melompat,
memeluk tiang lampu merah yang sejak tadi dihujat-hujat.
Ia menggeliat, menari. Kamu tercekat.
Napas jadi berat.
Kamu pusing,
ia berputar seperti gasing.
Dunia berputar seperti gasing.
Asing.
Bising.
Klakson saling berdesing
di kuping.
Lampu masih merah, klakson kian nyaring.
Bising.
Bising.
Anjing.
Anjing kencing. Pesing.
Asing. Bising. Pesing. Anjing.
Kamu sesak.
Kecil.
Kecil.
Kecil.
Dihimpit jok dan atap mobil.
Dijepit langit dan inti bumi.
Kami, terpelintir
di orbit galaksi.
Minggu, 16 Juni 2019
ini((itu))
(itu) berterima kasih untuk sesuatu(seseorang) yang tidak benar-benar ada.
itu(dia) mengulurkan itu(tangan) dan mengajak (itu) pergi berlarian.
itu(dia) sesuatu(seseorang) yang tidak benar-benar ada dan hadir sebagai guna(pahlawan).
12.54 AM
halo (itu)
terima kasih untuk tidak berpindah(menyerah)
(itu) memang(telah) mati(mati)
nanti ini((itu)) bertemu lagi di hari yang ini((itu)) tidak ada.
Senin, 25 Maret 2019
cheocheo
mari berani untuk menghadapi ketakutan
mari berani untuk berdiri dan menyeberang
mari berlari sampai tidak ada napas yang tersisa
kamu boleh mati, nanti, tapi tidak hari ini