Aku patah hati
Entah karena apa
Dan bukan karena siapa
Aku patah hati
Mungkin karena terlalu banyak tertawa
Lalu lupa
Ternyata
Kita masih sendirian
Di dunia
Yang fana
Aku patah hati
Entah karena apa
Dan bukan karena siapa
Aku patah hati
Mungkin karena terlalu banyak tertawa
Lalu lupa
Ternyata
Kita masih sendirian
Di dunia
Yang fana
Ternyata rindu yang terobati bisa jadi obat anti-tidur, obat anti-lapar, obat anti-haus, obat anti-lelah, obat anti-jenuh, obat anti-sedih, obat anti-galau, obat anti-bimbang, obat anti-sakit, obat anti-mainstream.
Aku baru tahu.
Sialnya, yang baru sama sekali nggak berpengaruh dalam hal itu.
Entah karena memang ikatannya yang kendor atau akunya yang agak mbulet kayak telor.
Nggak nyambung, sih, tapi nggak papa.
Yah, semoga aku bisa lebih peka dan lebih baper. Hehe.
Baper nggak salah, kok.
Malah salah kalau nggak bisa baper.
Jatuhnya lebih horor.
Percaya, deh.
Orang yang nggak bisa baper itu....
Hororlah, pokoknya.
Pernah tidak, sih, kamu sangat lelah tapi tidak bisa tidur?
Rasanya kayak minum jus mangga waktu Lucy-nya Narnia nyari Aslan.
Nggak ada hubungannya.
Ya, memang kayak gitu.
Mungkin lelah dan nggak bisa tidur itu nggak ada hubungannya. Sama kayak jus mangga dan Lucy yang nyari Aslan. Mungkin yang kita perlukan bukan jus mangganya atau tidurnya. Mungkin yang kita perlukan adalah perenungan dalam ketenangan dalam kesendirian dalam gelapnya malam.
Bukan apa-apa. Hanya saja, bukankah manusia sudah terlalu sibuk dengan dunia sejak matahari menampakkan cercah sinarnya? Bukankah manusia sudah terlarut dalam dunia selama senja masih bertengger di cakrawala? Lalu, kapan waktunya berkaca kalau tidak menyisihkan sebagian dari yang tersisa?
Manusia memang suka begitu. Suka lupa. Suka lupa mana darat muasalnya. Suka terbang ketinggian lalu tersangkut di awan. Suka asal bicara tanpa ditata. Sampai lupa juga kalau sudah bikin banyak hati terluka lewat lidah yang katanya (enak kalau disemur) takbertulang.
Sialnya, kadang aku sendiri suka lupa,
Ah, iya, aku juga manusia.
Pernah tidak, sih, kamu duduk di kursi taksi yang hening sambil memperhatikan bapak sopirnya, lalu kamu mendadak merinding?
Kayak punggungmu baru dikelitik ekor sapi. Bonus reaksi eksoterm.
Tiba-tiba aja hawa panas keluar dan kamu merasa dingin.
Kayak ditinggalkan sendirian.
Meskipun kamu nggak sendirian.
Meski kenyataannya kita semua selalu sendirian.
Hanya seolah-olah tidak sendirian.