Kamis, 16 Desember 2021

Bahu Hangat Itu Kutinggal Pergi

Kamis, enam belas di bulan Desember. Hari yang kuawali dengan pulang, hampir menabrak bak sampah karena kacamataku pecah sebelah. Aku sulit mengingat, benarkah hari telah berkurang satu dari hitungan menuju tahun baru?

Mengurus urusan yang tak habis-habis namun aku tidak tahu, itu apa dan untuk apa? Pesan-pesan bertukar, masuk-keluar. Rindu dan ajak temu, salam dan perjumpaan, kosong dan penuh basa-basi, kunikmati, kucoba maknai, tapi seperti merebus air dan kutinggal mandi, aku kembali dan melongok bingung, kemana semua pergi?

Hitungan terasa lambat. Kadang aku merasa, bagaimana bisa seseorang betah duduk diam dan bilang kehampaan itu nikmat? Pernah kudengar seorang tabib menasihatiku untuk hanya menghirup dan menatap malam Surabaya lamat-lamat, tapi mana aku bisa? Caraku adalah berdansa! Seorang yang lain berkata, sulap keahliannya, dan kalau aku ingin tahu kehebatannya, aku harus mau diam dan membiarkan triknya melucuti akalku yang masih sehat bekerja. Kenikmatan yang kucari, apa bagian dari yang mengawang-awang di semesta, yang bukan bagian dari himpunan dan tak beririsan?

Kursi untuk bersandar. Pada siang yang mendung ini aku mondar-mandir mengurus berkas kelulusan dan penghargaan. Usai dengan tanda tangan dan angka-angka yang kuisi tapi tak kukenali, aku bersandar di dinding kamar mandi. Hampir empat belas bulan ruang menariku hanya sepanjang 4 bilik dan dua wastafel yang mengakhiri koridor kecil ini, sementara di gedung yang gagah bermegah-megah ini aku sering kesulitan untuk bernapas, seperti udara dan manusia berebut menghimpit-pipihkan tubuhku dan ingin membuatnya tiada.

Aku bertanya lagi, ini hari apa? Kamis, katanya. Dinding kamar mandi dingin dan ruang ini tak seterang biasanya. Aku menghela napas, namun dada yang sesak tak lantas lega meski sudah kucoba untuk melonggarkan tali beha. Udara mungkin memadat di hari penghujan karena kudengar peluit kereta dan desing lajunya dari barat penjara.

Menu makan siang hari ini adalah sepi yang menanak beras menjadi nasi. Denting sendok beradu piring dan seruput kuah sayur saling sahut. Kudengar samar-samar tawa merambat dari tiang-tiang yang menyangga lantai satu. Di atas sini, hangatku cuma bisa kutitipkan pada dua bahu, selebihnya menurunkan suhu dan aku lelah pura-pura tidak kedinginan.

Nanti, bila pukul empat kurang lima tiba, aku mau lari dan bergegas menjejalkan seluruh basa-basi ke bagasi. Aku pergi.



Besok, kembali.

Kamis, 26 Agustus 2021

Matahari Itu Cukup Satu, Tapi Tidak Selamanya

Aku ingin menjual matahari. Di sini, kami tak punya malam hari. Waktu kami hanya siang, sore, dan pagi. Kami sendiriㅡmandiriㅡdan kehilangan jati diri. Kami tak kenal lelah tak tahu lemah. Keduanya, dan marah, adalah menu makan siang yang kami sehari-hari telan sampai muntah.

Aku ingin menghambur-hamburkan matahari. Ruang kami silau, lalu keluar dan menyadari Ahmad Yani selengang pagi di Hari Raya Idul Fitri. Kami sibuk memoles data orang mati dan menggula-i stok oksigen yang jauh dari memadai.

Di suatu siang, kami lapar dan memutuskan keluar. Hari masih terang, tapi fastfood andalanku telah mati nyala kuningnya tiga jam lalu. Cuma segelintir tahu telor dan nasgor yang punya nyali menguji peruntungan di gang-gang kosan, sementara baliho dan papan iklan berslogan tak relevan milik yang berkepentingan memenuhi sepanjang jalanku mencari terang bulan.

Kadang kami heran, kami ini sedang apa? Katanya atas nama kesejahteraan, namun lapangan kami hiasi kembang-kembangan. Di banyak sore, sering kami bertanya-tanya, sampai kapan perut-perut yang lapar kami paksa kenyang dengan pelatihan pemasaran digital yang bermegah-megahan? Sementara kisah nabi-nabi dan sate usus Cak Di tak bisa kami temui di storepedia ataupun syopi.

Aku ingin mendonasikan matahari. Kami rindu malam yang bukan bakso dan sungguh-sungguh ingin menikmati gelap dengan lelap. Kami takut mati, tapi matinya satu empati telah menggerogoti sehatnya akal dan jiwa kami. 

Aku ingin berhenti jadi matahari dan mau jadi bintang yang lain saja. Aku ingin berhenti ingin jadi matahari dan tidak apa-apa jadi bintang yang agak pudar sinarnya. Aku ingin berhenti terobsesi jadi apa yang kamu minta, sedang semua sinar yang kutawarkan tak pernah cukup hangatnya. 

Aku bukan matahariㅡdan bukan pula yang sinarnya paling terang di bumi. Aku bintang kecilㅡdan aku matahari, untuk bumi yang bukan kamu pijaki.

Sabtu, 24 Juli 2021

cermin retak itu kamu, aku yang memecahkannya

sunflower.

Pernah suatu malam, aku menanam satu
                                         di lengan kirimu.

Waktu itu kamu mabuk.
Duduk di kursi meja kerja di pukul 23 lewat 6.
Kamu cuma mau 24
    dan dipeluk dari belakang
    lalu dihadiahi kecup di kanan
                                      dan kiri,

padahal aku tanya mau pesan bakmi jogja atau rawon tegal biasanya.

Kamu menyebalkan,
                 aku sebal,
        dan selalu, tapi tidak marah dan baik hati,
kuberi yang kamu mau.

Tapi,
         kalau kamu nakal dan
aku bosan merasa sebal,

Akan kutekan tombol picunya,
dan boom!

dari dimana ditanam,
kamu akan meledak,
pelan-pelan dan tak berisik,
seperti semua lagu-lagu ngantuk di playlist-mu

kamu akan jadi kebun bunga matahari, dan
kamu tak akan mabuk lagi.
kamu hanya akan mabuk
                             kepayang

oleh sinarku (ahahahahaha)

sebaiknya jangan dekat-dekat,
kalau kamu tak ingin
            kubakar
sampai jadi abu

Jumat, 04 Juni 2021

Menghitung Tabungan dan Hutang-Hutang di Kilometer Dela-pan

Surabaya basah. Bank Rakyat Indonesia, di Basrah, megah.

Surabaya basah. Kami baru saja melewati perempatan Pandegiling, Pagi-pagi, biasanya kita berkejaran dengan mentari, antri dan terkantuk helm di rem yang kamu tarik tergesa. "Pecel polos aja, dua ya!"

Aku menatap rintik yang naik-naik dihempas angin dari dashboard Innova. Kami larut tapi tak tenggelam, kami siaga dan waspada, seperti bersiap disemprit pak polisi dari karapan sapi yang tahu kami hanya bersandiwara.

Aku menengok kiri dan melempar pandang ke gedung-gedung yang berlari kencang meninggalkan kami. Basrah padat tapi ia konstan di lima-puluhan. Di jendela, siluet tangannya berakhir di leherku. Kapan ya terakhir kami berbicara? Sepi bukan kami, ada yang ramai di buku-buku jari kami, dan di ujung bibir yang mengelupas kering didera tuarang kata-kata.

Aku teringat angka-angka di buku tabungan, cerita-cerita yang kita simpan dan susun sedemikian hingga kita lupa ini buku yang keberapa? Dulu kita bercita-cita untuk pulang ke dekat rel mati Stasiun Gubeng Surabaya. Es teler pak No sepelemparan jauhnya, kita bisa sewaktu-waktu mampir membeli es campur dan duduk berlama-lama di sana, menabung lebih banyak untuk bekal hari tua.

HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA

Lucu, ya? Haha. Sebentar, hha, lucu sekali.

Kadang terbesit untuk menagih daftar hutang-hutangmu yang belum sempat terbayar, tapi sekarang ia telah lapuk dilarung bandang. Aku juga ingin melunasi bon-bon yang kamu tumpuk di meja kerja, yang barangkali kini telah usang. Seperti jahitan celana kondanganmu yang kepanjangan, yang kutisik rapi-rapi dan kusembunyikan, yang sedetik modyar waktu kamu tersandung paving parkiran. "Sialan!"


Adakah kamu mencari-cari lembar yang terendam hujan Februari? Waktu itu sela jemarimu masih lengang dan di sana aku bebas berpetualang. Kamu yang gemar membaca garis tangan dan aku yang pura-pura enggan, "Dih, aneh sekali," namun malu-ragu mengulurkan lengan. Kamu menerawang masaㅡaku terbawa.

Pernahkah kamu ingin melamunkan musim jadi kunang-kunang? Ketika hutan tempat biasa kita berburu dijemput malam, penghujan dan kemarau menari membisik-bisiki masa. Kala pelarian yang sembrono ini mengantar kita ke bibir sungai tanpa jembatan, "Maukah kamu berenang saja?" Untuk selamanya, musim-musim menyala dan kita tak pernah merasa kekuranganㅡsementara.


Kami melambat di Embong Malang, memberi ruang bagi penyeberang. Aku menerawang, daftar hutang-hutangku yang demi satu-satu andai tanggal. Sewaktu-waktu kami melaju, memantik kembang api di balik mantel mencari kehangatan. Bolehkah kusimpan nyala ini selagi ada?

Di suatu pagi yang belum genap, aku pernah bercanda mencorat-coret wajah punggungnya. Sejenak ia pandangi merah yang menetes di pahanya dan biru yang tumpah di kemeja kerjanya. Matanya menelusur, kuning dan ungu yang berhambur. Aku siap dilalap marah; baik, aku salah. Tapi ia mengulurkan empat ibu jari, katanya ia akan memberiku lebih, andai punya. Kini, aku ingin melukisinya sampai mual. 

Pernah pula di malam yang ganjil ia bercerita, bagaimana jika drama ini kami hidupi saja? Aku tertawa. Dua aktor tak boleh jatuh cinta, kami telah menandatanganinya. Ia pangeran semalam dan yang ia tahu aku bukan Cinderella. Kami meromantisasi yang tak ada, uh, bolehkah kami mewujudkannya?

Aku sering keliru sangka. Di ia yang belum-belum menjadi sudah, sehingga aku lupa sebenarnya kami ini apa? Singgah di dekat rel kereta menikmati es Pak No dan menyeruput kuah bakso, ia bisa jadi apa saja dan menawarkan rupa-rupa. "Berapa semuanya?" pernah aku bertanya, ia bilang "kamu jadi baskara,". Itu saja. Tapi aku cuma bohlam untuk beberapa sorenya, aku tak suka pada esok yang tiada.

Sebagaimana kita, kami menghitung mundur selamat jalan. Andai bisa, aku ingin sekali menikmati sipu-sipu malu dan haru-haru waktu aku leluasa menghambur di lengannya. Aku mau pura-pura tak tahu biar kukira episode terakhir belum diketuk harinya. Tawari aku dua gelas susu dan katakan saja itu teh madu, dengan senang hati kutenggak bohongnya hingga tak bersisa.


Di Surabaya, aku juga mau jatuh cinta, dan bisa. Tapi Surabaya tak bermusim, hujan rintik telah reda dan kini kami telah sampai di Juanda. Jika ada rasa yang berdesir mengikir-ngikir akal sehat, kupastikan ia berangkat bersama kotak-kotak cerita yang kuikat erat-erat. Bila sewaktu-waktu ikatnya lepas, biar kisahnya berhambur dan kujumput kala kelana.

Kini saatnya mengambil alih kemudi. Seperti meteran bahan bakar di Pertamina, "mulai dari nol, ya," aku kembali mengembara, dan akan aku temui kamu-ia yang lainnya.

Selasa, 03 September 2019

Terpelintir di Orbit Galaksi

Hutan. Di sekitar sembilan belas per sebelas hari ke arah barat daya, jembatan.

Kami terbiasa menghitung mundur sampai matahari hilang di urutan ke hampir ratusan. Kami akan berjingkat-jingkat di hitungan puluhan, sembunyi di antara rerumputan. Kadang ketika kami tumbuh besar, daun tertinggi hanyalah sebatas mata kaki dan jari-jari. Kami raksasa, dan dunia adalah semut-semut hitam yang mengerubungi telapak kaki. Dunia adalah debu-debu yang tersangkut di pilinan benang-benang yang menyusun sepatu kami. Dunia begitu kecil. Sangat mungil hingga tidak ada yang dapat kami lihat selain diri kami sendiri.

Pada hari-hari dimana matahari terasa terlalu terik, kami mengambil genangan becek laut bumi untuk membasuh matahari yang tak lebih dari satu bulan di atas kepala kami. Kadang kami kesepian. Tidak banyak yang dapat kami lakukan karena Athena hanya sebersinan jauhnya. Di hari-hari kami adalah raksasa, hal-hal besar begitu mudah kami genggam, sedang hal-hal kecil adalah yang selalu terabaikan. Mereka luput dari pandangan.

Malam adalah jubah yang kelap-kelip di tubuh kami. Di kepala kami, bintang-bintang seperti kunang-kunang di dalam permen cokelat chacha dan planet-planet adalah gumpalan serbuk pop ice bubble gum, melon, mangga, dan sirsak yang melayang-layang. Sesak. Rasanya sesak. Dunia terlalu kecil sehingga kami dapat mendengar binatang-binatang yang berkejaran dengan nafsu yang menetes-netes di ujung hidungnya, ego yang saling silang di dentang-denting dinding-dinding yang pecah, marah-marah yang menguap di corong-corong rumah, desah-keluh-kesah yang tak habis-habis dihembus-hempaskan pada gemericik langkah-langkah yang lelah. Malam adalah resah; membumbung; merekahㅡTerlambat.

Duduk di tempat.
Jalanan padat.
Matahari menyengat.
Kamu melihat: pria melompat,
memeluk tiang lampu merah yang sejak tadi dihujat-hujat.
Ia menggeliat, menari. Kamu tercekat.
Napas jadi berat.
                          Kamu pusing,
       ia berputar seperti gasing.
Dunia berputar seperti gasing.
      Asing.
       Bising.
Klakson saling berdesing
                      di kuping.

Lampu masih merah, klakson kian nyaring.
Bising.
Bising.
Anjing.
Anjing kencing. Pesing.

Asing. Bising. Pesing. Anjing.

Kamu sesak.
           Kecil.
             Kecil.
               Kecil.

Dihimpit jok dan atap mobil.

Dijepit langit dan inti bumi.

Kami, terpelintir
                   di orbit galaksi.

Minggu, 16 Juni 2019

ini((itu))

8.57 PM

(itu) berterima kasih untuk sesuatu(seseorang) yang tidak benar-benar ada.
itu(dia) mengulurkan itu(tangan) dan mengajak (itu) pergi berlarian.
itu(dia) sesuatu(seseorang) yang tidak benar-benar ada dan hadir sebagai guna(pahlawan).


12.54 AM

halo (itu)
terima kasih untuk tidak berpindah(menyerah)
(itu) memang(telah) mati(mati)
nanti ini((itu)) bertemu lagi di hari yang ini((itu)) tidak ada.

Senin, 25 Maret 2019

cheocheo

halo, aku.
mari berani untuk menghadapi ketakutan
mari berani untuk berdiri dan menyeberang
mari berlari sampai tidak ada napas yang tersisa
kamu boleh mati, nanti, tapi tidak hari ini

Jumat, 11 Januari 2019

Saatnya Kembali

Nggerong kaya kucing.

Beberapa detik di antara menit-menit yang kepayahan, pertanyaan-pertanyaan yang menguap seperti gerimis deras yang menggenang di sela ban bekas. Sementara, kotak-kotak tersier perlu diusung dan dialirkan lewat parit-parit kecil di perumahan, gang-gang perkampungan, menyatu bersama limbah rumah tangga, sementara.... Kata-kata harus terus berlomba, melompat, terjun, bersahutan, menggema, seperti sepi-sepi ketika lumba-lumba berbicara. Nantinya, di akhir pekan, kami akan berjumpa di lautan, dihirup ikan-ikan, penyu, dan kapal selam. Kami akan dihirup dan dihembuskan, disemburkan paus lewat punggung kepalanya.

1.33.22

23.34

15.09

23.58

Cerita-cerita yang habis di perjalanan, yang tumpah di jeglongan Ciliwung-Progo, yang gembos di kampus dan didongkrak dengan ragu-ragu, bimbang, resah, malu, pertemuan tapi perpisahan, salam-salam canggung, teh tengah malam, kantuk-kantuk yang menetes di meja kerja, di pangkuan, di atas keyboard dan terantuk kamera.

Tepukan di pipi, cium, peluk, tinju, tampar, marah-marah-marah, angka-angka serta kata-kata yang tak pernah berhenti berbicara mengenai persepsi, tuduhan, pembelaan yang merangkak tapi diinjak-injak. Tidak ada yang lebih damai daripada kericuhan itu sendiri. Yang hanya kami sutradaranya, penulisnya, kameranya, aktornya, penontonnya, pada panggung yang tidak ada.

Waktu tiba-tiba seperti kereta dan kami serupa angin yang terberai. Seperti kapuk bantal yang terlindas, kami berhambur dengan cantik, estetik. Kami butuh ditolong dari sesuatu yang tidak ada, dari lilitan kain yang benang-benangnya tak ada, dan menginginkan jembatan yang daratannya tak ada.

2 3 4

Istirahat di tempat. Tidak ada yang tahu bagaimana hitungan sering mengecohkan, seolah-olah kami berada di lajur yang tepat, kemudian terpelanting ke pukul empat lewat sebelas, ketika azan subuh terdengar tapi kami baru lelap. Kamu sungguh teramat baik, dekat, dan menyingkap tirai nomor dua kemudian membuat kesepakatan dengan lembut dan manipulatif bahwa aku perlu bangun dan sembahyang. Dan dari balik sujudku kadang aku suka mengintip lewat sela-sela mukena, begitu iri dan takjub pada ujung jari-jarimu yang menempel pada sajadah, sedang kami terus berdebat, kita tidak seharusnya mengiri hati.

Sebelum kamu bangun, aku lebih dulu melempar bibit-bibit hujan ke tambak udang. Jika kamu bangun nanti, kita akan menemui tuarang yang ter-amat-panjang.

Dan kita tahu, ini adalah saatnya