Kenapa, sih, kamu selalu terdengar patah hati?
Ya, maaf. Aku bukan solasi.
Rabu, 11 Januari 2017
Senin, 09 Januari 2017
Ketimpangan: Kamu Yang di Rembulan
Aku masih menatapmu dari jendela
Dan kamu cuma sibuk di sana
Pura-pura tidak peduli
Atau barangkali aku yang berharap
Kamu pura-pura tidak peduli
Dan kamu cuma sibuk di sana
Pura-pura tidak peduli
Atau barangkali aku yang berharap
Kamu pura-pura tidak peduli
Jumat, 06 Januari 2017
Nggak Tahu Lagi
Susu dan sereal.
Mood sarapan pagi ini nggak sebagus kemarin (yang sebenarnya juga buruk). Sendok di tangan naik turun tapi nggak menyuapkan apa-apa, cuma kayak kaki bebek yang kecipak-kecipuk di air. Susu di mangkuk makin keruh warnanya karena koko krunch-nya mulai luntur. Sama kayak semangat yang pagi ini mulai terkontaminasi, kebanyakan mikir. Padahal nggak ada yang dipikir.
Ini baru perkara chatting dan debatnya luar biasa. Saya sampai pingin tidur aja. Entah kenapa tidur selalu jadi solusi yang manjur. Mungkin karena dengan tidur kita bisa menutup mata sebentar, mimpi indah, tanpa masalah, lari dari kenyataan. Meskipun kenyataannya, ya, kita tidak lari dari mana-mana. Masih di atas tempat tidur, mengulur waktu, dan masalah makin lama kelar.
Ini baru perkara chatting dan resahnya luar biasa. Saya perlu jadi agak egois sedikit atau saya terlalu egois? Saya nggak tahu lagi. Ketar-ketir, ingin ikut turun tapi saya sudah banyak main-main dengan singa dan kotak hitam. Saya sudah lama mengabaikan oranye yang menyala-nyala, rindu katanya.
Ah, apa saya terlalu egois? Apa malah kurang egois? Saya nggak tahu lagi.
Kamis, 05 Januari 2017
Kangen: Saya Nggak Percaya
Dia lelah katanya
Tapi masih berlarian
Di kepala
Di langit-langit mulut
Di telinga
Namanya apa?
Namanya siapa?
Kata ibu, kangen namanya
Kata saya, mustahil rasanya
Tapi masih berlarian
Di kepala
Di langit-langit mulut
Di telinga
Namanya apa?
Namanya siapa?
Kata ibu, kangen namanya
Kata saya, mustahil rasanya
Sabtu, 24 Desember 2016
Rabu, 07 Desember 2016
Pengecut: Menatap Lewat Cermin
Saya punya seseorang yang sedang saya kagumi,
Ya, tidak bisa saya katakan juga kalau saya naksir, lho, ya:)
Ya, gitu. Buat saya, perkara hati dan selera memang meruntuhkan fisik ke mana-mana. Hehe.
Sialnya, gara-gara rasa kagum itu, saya jadi suka salah tingkah sendiri. Jalannya yang biasa saja jadi kelihatan beda. Senyumnya yang biasa jadi kelihatan beda. Bahkan sampai soal remeh pun, jadi terlihat beda.
Makanya, saya mati-matian ingin menghindar sejauh mungkin, sebanyak mungkin. Tapi, dasarnya saya juga manusia, keinginan saya untuk curi-curi pandang nggak kalah besar.
Jadi, saya punya solusi, yang baru-baru ini jadi hobi.
Menatap lewat cermin.
Sekarang, saya lebih suka memunggunginya.
Kamis, 01 Desember 2016
Rindu. (Bukan Kangen)
Katamu perlu jarak untuk merindu
Waktu untuk menunggu
Ruang untuk bertemu
Dan buatku, rindu
mu cuma candu
Sama seperti sebatang dan secangkir yang selalu jadi obatmu
Katamu,
Untuk rindu
Rabu, 30 November 2016
Kangen: Sejenis Benci Yang Tidak Dapat Dikatakan
Ada jenis-jenis rindu yang tidak dapat kita katakan dengan lantangㅡsetidaknya olehku. Jenis yang satu ini mungkin salah satunya.
Saya masih setia menanti kabar. Bolak-balik menilik ponsel, menunggu. Barangkali, di antara pesan-pesan tentang ini-itu yang masuk, terselip satu baris pesan darimuㅡmengabarkan sesuatu, mungkin?
Saya memang sudah lama tidak bertanya, lama tidak menyapa, lama terlihat lupa dan abai-abai saja. Tapi, tidak, lho. Mungkin, saya dan 'saya'-'saya' lain yang kamu anggap menyebalkan ini, sebenarnya salah sekian yang paling ketar-ketir, gemas sendiri melihat kamu dan 'kamu'-'kamu' lainnya yang terlihat antusias setengah kesal. Ndak papa, lha wong kami ya pernah jadi kalian:) Gimana-gimana ya paham rasanya ngelakoni tetek-bengeknya meskipun kita beda zaman.
Sampai hari ini, sampai di mana saya masih menanti kepastian ini, saya masih tetap berdoa. Mendoakan kamu, aku, dan kita semua. Semoga tidak akan ada apa-apa yang mengganggu acara kencan kita. Semoga semuanya lancar-lancar saja tanpa hambatan dan rintangan.
Hanya karena saya sebegini bencinya, bukan berarti saya jadi tidak acuh begitu saja. Justru karena saking sayangnya, benci saya jadi sebegini besarnya. Dan rasa kangen saya nggak bisa dilontar lewat apa-apa, bahkan kalau angin bilang ia sanggup jadi perantaranya.
Pokoknya, diam-diam, saya sampaikan rindu saya, salam kangen saya, rasa sayang saya, dan rasa benci saya, lewat mimik saya yang tetap datar-datar saja. Semoga kamu tetap bisa menerimanyaㅡsaya nggak memaksa:)
Nanti Aku Leleh
Nah, kan saya sudah bilang
Ketahuan, kan
Nah, makanya saya bilang
Jangan nulis
Nanti
aku leleh
Ketahuan, kan
Nah, makanya saya bilang
Jangan nulis
Nanti
aku leleh
Langganan:
Postingan (Atom)